PERSEPSI REMAJA TERHADAP PROGRAM GenRe



A.   Latar belakang
Banyak hal yang bisa dipejari bagaimana kehidupan remaja terurama di masa saat ini, dari permasalahan remaja yang sangat komplek. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju masa dewasa, dimana pada masa ini remaja lebih cendurung untuk memperkenalkan jati diri masing-masing. Kecenderungan ini yang membuat remaja terkadang salah dalam bergaul yang membuat remaja terjerumus pada hal yang negative. Terutama pada isu sentral terkait kesehatan reproduksi remaja. Data SKKRI Tahun 2007 menyatakan 71% remaja mencerikan masalahnya pada teman sebaya, pada Orang tua sebanyak 31%, pada Guru 31%, pada Petugas kesehatan sebesar 16%, serta pada Pemuka agama hanya sebesar 12%. Data ini menunjukan bahwa hampir sebagian besar remaja menceritakan masalah kesehatan reproduksi dengan teman mereka sendiri. Ini menunjukkan bahwa ketika informasi yang diberikan tidak benar akan sangat berpengaruh pada hal-hal yang negative pada remaja itu sendiri.
Untuk merespon permasalahan remaja tersebut, Pemerintah melalui BKKBN telah melaksanakan dan mengembangkan program GenRe dalam satuan kegiatan melalui PIK-Remaja/Mahasiswa yang di arahkan untuk mewujudkan Tegar Remaja dalam rangka Tegar Keluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera. PIK-Remaja/mahasiswa (Pusat Informasi dan Konseling Remaja/mahasiswa) hadir sebagai suatu wadah kegiatan dari, oleh dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang informasi kesehatan reproduksi remaja yang biasa disebut dengan Triad KRR (masalah seksualitas, Napza, serta HIV AIDS), keterampilan hidup, pengembangan jaringan dan kegiatan pendukung lainnya sesuai dengan minat remaja dengan harapan pada mengarah pada PKBR (Penyiapan Kehidupan Keluarga Bagi Remaja). Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja terhadap program GenRe yang telah dicanangkan oleh BKKBN perlu sebuah analisis untuk melihat persepsi remaja terhadap Program GenRe sejauh mana tercapainya program.

B.   Analisis
a.    Pengetahuan Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi
Dari hasil Survey indicator kinerja RPJMN program Kependudukan dan KB Tahun 2013 diketahui pengetahuan remaja tentang pendewasaan usia perkawinan :
1.    Remaja menginginkan menikah pada usia 23,2 tahun utnuk wanita,  dan 25,2 tahun untuk pria
2.    Keinginan remaja mempunyai anak di masa mendatang, rata-rata untuk wanita 2,4 anak dan pria 2,5 anak.
3.    Remaja menginginkan jarak antara dua kelahiran anak rata-rata 37,1 bulan (remaja wanita) dan 36,5 bulan (remaja pria).
Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja :
1.    Rata-rata umur haid pertama 13,3 tahun, tetapi 31 persen remaja wanita sudah mengalami haid sebelum umur 13 tahun, sehingga resiko kemungkinan terjadi kehamilan pada usia anak semakin tinggi.
2.    Rata-rata umur mimpi basah 14,2 tahun, tetapi 20 persen remaja wanita sudah mengalami haid sebelum umur 13 tahun, ini menandakan masa akilbaliq pada sebagian remaja pria telah terjadi lebih dini.

b.    Informasi program GenRe
Menurut data secara nasional dari 26 persen remaja yang mendengar PIK-Remaja, 29 persen-nya pernah ikut kegiatan PIK_Remaja. Serta remaja yang pernah ikut PIK-Remaja, mendapatkan informasi KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) dari pendidik sebaya 77 persen, konselor sebaya 59 persen dan dari sumber lain 28 persen (Survey indicator kinerja RPJMN program Kependudukan dan KB Tahun 2013)
Pada Survey indicator kinerja RPJMN program Kependudukan dan KB Tahun 2013 di dapat bahwa Remaja mengaku mendapatkan informasi KRR dari televisi 81 persen, dari Koran / majalah 36 persen, website/internet 31 persen, serta dari radio sebesar 34 persen. Informasi KRR yang diperoleh dari media luar ruang dari spanduk sebanyak 31 persen, dari poster 29 persen, dari brosur 17 persen, billboard 21 persen, pamphlet 31 persen, melalui pameran 12 persen dan dari Mupen KB 9 persen serta dari Mural sebanyak 6 persen.
Dari data di atas dapat dilihat bahwa peran PIK-R belum berjalan secara maksimal dalam mensosialisasikam akan pentingnya peran PIK-R sebagai wadah informasi kesehatan reproduksi remaja. Keberadaan dan peranan PIK-KRR di lingkungan remaja sangat penting artinya dalam membantu remaja untuk mendapatkan informasi dan pelayanan konseling yang cukup dan benar tentang KRR. Akses dan kualitas pengelolaan dan pelayanan PIK-KRR masih relatif rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan pengembangan dan pengelolaan PIK-KRR dalam rangka meningkatkan akses dan kualitas tersebut. Untuk peningkatan pengembangan, pengelolaan dan pelayanan PIK-KRR diperlukan buku panduan yang dapat digunakan oleh semua pihak yang terkait dengan pengelolaan,  pengembangan dan pelayanan PIK-KRR.

C.   Rekomendasi / Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja belum menjadikan PIK-Remaja sebagai sebuah kebutuhan informasi tentang Kesehatan Reproduksi serta peran PIK-R sebagai wadah informasi kesehatan reproduksi remaja belum berjalan secara maksimal. Sehingga perlu ada beberapa rekomendasi diantara sebagai berikut :
1.    Mindset
Merubah Pola pikir PIK- Remaja yang beda dari hal yang biasa, dilakukan dari hal yang kecil dan berdaya guna, KIE konkrit = membuat status bertemakan  Isu Triad KRR di media sosial, Facebook sehari secara bersamaan. Teori doktrin public =  hal yang selalu di ulang-ulang akan menjadi hal yang dipercaya tampa di proses oleh OTAK exam ; Iklan Rokok menjadi habit di masyarakat terutama di kalangan laki-laki, kulit manggis sudah ada ekstraknya = iklan kulit manggis, aksi terorisme bom bunuh diri akibat doktrinisasi dikalangan ekstrimis = termasuk ISIS,




2.    Sosialisasi
a)    Sosialisasi program GenRe melalui media massa atau media luar ruang lebih ditingkatkan.
b)    Sosialisasi program tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri dalam upaya meningkatakan pendanaan dari luar negeri. Example, SMA N 12 Batam mendapat kunjungan dari Dubes AS karena tertarik dengan kegiatan PIK-R setelah melihat situs PIK-R SMA N 12.

3.    Isu pokok pesan / kegiatan
a)    Menjadikan PIK-Remaja sebagai Model percontohan  dalam pencegahan masalah Triad KRR baik di dalam negeri maupun di luar negeri dengan lebih mengalakkan sosialisasi terutama di media social yang cenderung menjadi trend di era internetisasi
b)    Kreatifitas kegiatan PIK – Remaja lebih diperkaya dan menyesuaikan dengan isu dan trend anak muda saat ini.

4.    Mitra
a)    Pelatihan untuk Guru Pembina di sekolah lebih ditingkatkan, dari banyak PIK-R yang eksis peran guru Pembina adalah hal utama.
b)    Memotivasi para mitra bahwa masalah remaja adalah masalah bersama dengan program GenRe adalah solusi dengan mengenalkan PIK-Remaja yang ada di lingkungan di remaja masjid, karang taruna dan lain sebagainya.

REFERENSI  PUSTAKA


  1. Hasil Survey indicator kinerja RPJMN program Kependudukan dan KB Tahun 2013


Oleh : Muhamad Jumliadi,S.IP - Widyaiswara Perwakilan BKKBN Prov. Kepri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batam Kota Ruli di Batas Persimpangan