Revolusi Manajemen Kepemimpinan Program KB



1.     Pendahuluan
Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang kepemimpinan dengan berbagai perspektifnya. Sejarah timbulnya kepemimpinan, sejak nenek moyang dahulu kala, sikap kerjasama dan saling melindungi telah muncul bersama-sama dengan peradapan manusia. Kerjasama tersebut muncul pada tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-kelompok manusia dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya menentang binatang buas dan menghadapi alam sekitarnya. Berangkat dari kebutuhan bersama tersebut, terjadi kerjasama antar manusia dan mulai terlihat unsur-unsur kepemimpinan. Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin dari kelompok tersebut ialah orang-orang yang paling kuat dan pemberani, sehingga ada aturan yang disepakati secara bersama-sama misalnya seorang pemimpin harus lahir dari keturunan bangsawan, sehat, kuat, berani, ulet, pandai, mempunyai pengaruh dan lain-lain. Hingga sampai sekarang seorang pemimpin harus memiliki syarat-syarat yang tidak ringan, karena pemimpin sebagai ujung tombak kelompok.
Kepemimpinan banyak dibahas oleh para ahli diantaranya menurut Locke et.al. (1991), mendefinisikan kepemimpinan merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama. Memimpin bicara bagaimana bisa mengatur, mengendalikan, membuat strategi dan taktik, serta bagaimana bisa mencapai agar tujuan dari organisasi atau kelompok bisa tercapai yang pada prinsipnya sama seperti mengatur strategi dalam sebuah permainan sepak bola. Dimana seorang manager pelatih sangat berperan besar dalam tercapainya target sasaran yang telah disepakati oleh klub. Oleh karena itu, penulis ingin melihat bagaimana kepemimpinan organisasi Perwakilan BKKBN Provinsi Kepri dianalogikan dengan kepemimpinan seorang manager sebuah klub sepak bola.


2.     Pembahasan
Seorang manager sebuah klub sepak bola sangat berpengaruh pada prestasi yang dicapai, bagaimana kecerdikan manager meracik strategi serta taktik dalam setiap pertandingan sangat berperan besar dalam memenangkan laga. Menyetak Gol sebanyak-banyaknya dengan sebuah kemenangan adalah tujuan mutlak, dengan strategi dan taktik jitu sebagai kunci. Berbicara taktik berarti berkonsentrasi pada strategi permainan sebuah tim sepakbola. Taktik dan skema permainan sepakbola selalu berujung pada formulasi penempatan pemain atau biasa disebut formasi.
Dalam bermain bola Sebetulnya mengutak atik formasi sudah menjadi cara lama, Seorang manager yang jenius selalu punya banyak cara dalam meracik pemain, bagaimana pemain A ditempatkan pada posisi bek, pemain B ditempatkan pada posisi gelandang, serta pemain C ditempakan pada posisi penyerang. Komposisi pemain pada dasarnya menyesuaikan taktik apa yang akan diterapkan oleh sang pelatih. Selain formasi, konsep filosofi permainan sudah mulai diterapkan di setiap tim sepakbola. Skema formasi bukan menjadi pusat konsentrasi lagi, melainkan setiap tim harus memilih sebuah konsep permainan. Formasi bukan menjadi bagian vital dari sebuah tim, formasi hanyalah sebuah barisan, entah mempertajam lini serang, memperkuat pertahanan, dan mengantisipasi taktik lawan. Pada prinsipnya, pemilihan formasi dan taktik yang tepat bertujuan untuk dua hal, yaitu memaksimalkan potensi pemain yang dimiliki, atau meminimalisir dampak kekurangan skill individu pemain yang ada.

Begitu sebaliknya bila dianalogikan dalam memimpin organisasi pemerintah dalam hal ini BKKBN, bagaimana seorang pimpinan dituntut untuk bisa memegang peran penting dalam menentukan jalannya roda organisasi. Dimana goalnya adalah tercapai apa yang telah disepakati dalam Kontrak Kinerja Provinsi (KKP) selama satu tahun anggaran. Perwakilan BKKBN Provinsi Kepri memiliki empat bidang yang terdiri dari bidang sekretariat, bidang Adpin dan Latbang, bidang KB-KR, serta bidang KS-Dalduk yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Bicara formasi bagaimana seorang pimpinan bisa dengan bijak menentukan posisi di setiap sesi, karena akan berdampak pada kinerja sehingga penempatan setiap posisi akan menjadi sangat penting. Dilihat dari komposisi bidang-bidang yang ada kalau dianalogikan dengan formasi sebagai sebuah permainan sepak bola yaitu sebagai berikut : Pada posisi bek atau pemain belakang dianalogikan bidang sekretariat yang memiliki kecenderungan bertahan dan menghalau serangan lawan. Begitu juga dengan Bidang sekretariat berkaitan dengan perencanaan, keuangan, serta urusan kepegawaian, yang juga cenderung bagaimana mengurusi kegiatan internal dalam artian lebih pada kegiatan bertahan. Bermain bola dengan pertahanan yang rapuh akan mudah di bom bardir oleh penyerang lawan. Oleh karena itu, keberadaan sekretariat bisa dikatakan sentral karena berhubungan dengan pembiayaan organisasi. Mustahil organisasi akan berjalan jika kondisi keuangan yang tidak baik dan rapuh.
Selanjutnya bidang adpin dan latbang bisa dianalogikan sebagai seorang gelandang yaitu seorang pemain yang posisinya berada di antara para penyerang dan para bek. Fungsi utama mereka adalah mendapatkan dan menjaga penguasaan bola, serta memberikan bola kepada para penyerang. Namun ada juga gelandang yang tugasnya lebih bertahan, dan ada pula yang posisinya hampir seperti seorang penyerang. Seorang gelandang mempunyai tugas-tugas yang penting: menerima bola yang ditujukan ke depan, bertahan atau melakukan tekel (tackle) terhadap pemain lawan, mencetak atau membantu menciptakan sebuah gol, sehingga mereka sering dianggap sebagai anggota terpenting dalam sebuah tim. Begitu juga dengan bidang adpin dan latbang yang memiliki tugas central sebagai fasilitator serta suplay kepada bidang KB dan KS sebagai goalnya dari program. Misalnya, Memberikan advokasi dan KIE dalam rangka mensosialisasikan program KB serta melatih para bidan sebagai ujung tombak pelayanan KB.

Terakhir yaitu bidang KB-KR yang diposisikan sebagai pemain depan/penyerang beranjak dari tujuan utama berdirinya BKKBN yaitu pelayanan KB.  Penyerang merupakan posisi yang paling dekat dengan gawang lawan. Tugas utama seorang penyerang adalah mencetak gol. Posisi penyerang adalah posisi yang membutuhkan tiga hal utama: kecepatan, teknik, dan bakat. Bila salah satu syarat di atas tidak terwujud, sulit menjadi penyerang yang andal. Penyerang juga membutuhkan naluri dan konsentrasi yang tajam. Begitu juga dengan Bidang KB-KR yang diposisikan penulis sebagai striker memiliki tugas utama mencetak gol yaitu bagaimana memberikan pelayanan KB sebaik mungkin kepada masyarakat. Teknik, bakat serta naluri dan konsentrasi yang tajam juga dibutuhkan sehingga program KB bukan sesuatu yang langka tetapi menjadi suatu kebutuhan. Karena kecenderungan pemahaman masyarakat terhadap program KB masih rendah.



Posisi lainnya yang juga mirip dengan penyerang adalah posisi "penyerang bayangan", atau sering disebut "penyerang lubang/ "Gelandang serang". Posisi penyerang bayangan berada tepat di belakang penyerang murni ataupun dibelakang di antara dua striker murni yang oleh penulis dianalogikan bidang KS dan Dalduk. Tugas penyerang bayangan sedikit lebih rumit, karena selain menerima umpan dari pemain di belakang, juga kadang-kadang harus memberi umpan terhadap pemain di depannya (penyerang murni). Penyerang bayangan juga harus membantu pertahanan ketika dibutuhkan. Pada bidang KS penulis memposisikan sebagai seorang penyerang bayangan, dimana bidang KS banyak bicara pembangunan keluarga mulai bagaimana membina balita, remaja sampai lansia, menyadarkan remaja mengerti usia ideal untuk menikah dengan program GenRenya serta memahami program kependudukan. Program KB tampa ada dukungan dari bidang KS seolah timpang, aseptor yang telah ber-KB akan lebih sempurna ketika kegiatan KS berjalan seperti seorang striker bisa lebih leluasa dengan adanya suplay-suplay bola dari seorang stiriker bayangan.  Untuk lebih memahami analogi antara kepemimpinan sepak bola dengan seorang pimpinan organisasi BKKBN bisa dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel I
Analogi Formasi
SEPAK BOLA
BKKBN
a.    Formasi
o   Bek/pemain belakang yaitu pemain yang memiliki kemampuan bertahan
o   Gelandang/pemain tengah yaitu pemain yang memiliki kemampuan sebagai pengatur serangan yang terkadang juga bertahan
o   Striker/pemain depan yaitu pemain yang memiliki insting menyerang untuk mencetak gol lawan
a.    Formasi
o   Bidang Sekretariat  diposisikan sebagai Bek/pemain belakang
o   Bidang Adpin dan Latbang diposisikan sebagai Gelandang/pemain tengah
o   Bidang KB-KR dan KS-Dalduk diposisikan  sebagai striker atau sebagai pemain depan
3.     Penutup
a.    Kesimpulan
Kepemimpinan pemerintahan bukanlah urusan kompetensi dan kewenangan semata, tetapi merupakan sumber aktivitas kelompok yang prima. Begitu juga dengan Kepemimpinan dalam ranah persepokbolaan dimana pelatih kepada para pemainnya yang cenderung lebih mengutamakan taktik dan strategi serta kecerdikan pemilihan formasi pelatih dalam menciptakan peluang dan mencetak gol sebagai tujuan akhir. Dalam kepemimpinan pemerintahan tidak hanya bicara taktik dan strategi saja dan juga bukan hadir untuk membetangkan beban kepada yang dipimpinnya, tetapi hadir di tengah-tengah masyarakat untuk membawa harapan, kesejahteraan, rasa aman dan penghargaan. Pemimpin pemerintahan tidak lagi merupakan sosok yang hanya dapat memberi perintah saja, tetapi mereka dituntut untuk tampil sebagai pemberi suri teladan, menjadi panutan dan pemberi arah, menjadi fasilitator, sebagai mitra kerja, sebagai penanggung resiko yang mempunyai visi untuk mendorong organisasi dan orang-orang yang dipimpinnya berkembang, belajar, serta mampu mengembangkan seluruh potensi dirinya secara optimal. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Filosofi kepemimpinan dalam bermain sepak bola terutama kerjasama antar lini pemain belakang, tengah dan depan serta kerja keras tim untuk memenangi dalam setiap laga adalah hal yang perlu diperkuat dalam membangun BKKBN ke depan sehingga apa yang menjadi cita-cita organisasi dalam tercapai.
b.    Saran
o   BKKBN adalah sebuah tim tidak ada yang merasa lebih tinggi baik diposisikan sebagai pemain belakang, tengah atau pun pemain depan. Dalam menunjang kinerja kerjasama antar lini sangat diperlukan.
o   Formasi begitu sangat penting keberadaannya sebagai ruh organisasi untuk terus bergerak yang akan menentukan tujuan serta arah dari organisasi
o   Belajar dari konsep filosofi permainan sepak bola yaitu bermain cantik atau sekedar bermain yang penting hasil akhir, seorang pemimpin harus bisa menentukan strategi mana yang pas untuk organisasi yang dipimpin. Apakah dengan cara yang cantik ataukah hanya melihat hasil atau malah kedua-duanya.
o   Seorang pemimpin dituntut memiliki kecerdasan dalam memilih dan menentukan formasi yang ideal yang akan digunakan dalam memimpin suatu organisasi.

o   Mereffres formasi bukan sesuatu hal salah tetapi justru akan memberikan suasana dan tantangan baru bagi para pelaksana kebijakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batam Kota Ruli di Batas Persimpangan

PERSEPSI REMAJA TERHADAP PROGRAM GenRe